Girl In Me followers
Show Navigation
Free Web Counters
Brookstone Discount Codes
Follow on Bloglovin

Girl In Me

I am obviously girl. Live In wrong body.

Riwayat Mesin Sepuh

Mesin itu teronggok di sudut ruangan. Lumpuh.

Ia juga tuli dan bisu. Kini, keberdaannya lebih mirip hiasan ketimbang alat. Hiasan yang justru membuat ruangan tambah kumuh. Tidak lama lagi, seseorang akan mengangkatnya dari sana. Tapi, siapa menyangka gabungan besi berdebu itu pernah begitu membantu manusia dalam melakukan banyak pekerjaan?

Mesin itu berotak pentium. Ia lahir dari pemikiran panjang seorang profesor yang telah menukarkan seluruh hidupnya menjadi sebuah alat yang dapat digunakan banyak umat.

Kebolehannya yang utama adalah mampu menerima informasi dan menyimpannya. Meng-conver numerik ke dalam alphabet, kemudian sebaliknya. Selain tanggap, ia juga memproses semua data yang masuk dengan cepat. Cukup sepersekian detik, kau bisa meminta kembali informasi yang telah kau pindahkan padanya, kapan saja. Dalam bentuk apa saja.

Manusia kemudian lalai. Mereka mengoperasikan mesin itu dua puluh empat jam seminggu. Bergiliran. Mereka mentransfer banyak hal. Mulai dari data-data yang tak kuasa otak mereka simpan, bahkan sampai keluhan. Kepada mesin itu, mereka mengeluh, sambil berharap cemas menanti solusi.

Seperti biasa, mesin itu akan memberi. Ia selalu mengkonversikan semua yang manusia minta. Semuanya. Seluruhnya. Ia tidak kenal kata kecuali.

Manusia terus menerus menggunakannya. Mereka lupa, kemudahan terkadang begitu dekat dengan eksploitasi. Sedangkan mesin, secanggih apa pun, ia tetap hanya mesin. Ia boleh menawarkan banyak kemudahan, tetapi tetap tak mampu berinisiatif. Sesuatu yang penting dan dapat menyelamatkan dirinya. Semua yang dilakukannya telah diatur dan dirancang sedemikian rupa untuk manusia.

Mesin itu bekerja nyaris tanpa jeda. Selalu saja ada yang harus dilakukannya. Setiap tanggung jawab yang diembannya seperti gelambir daging sapi mentah yang dijejal-jejalkan ke dalam kantung keresek sampai penuh, sampai nongol-nongol keluar, sampai tumpah-tumpah, meruah. Tidak ada ruang tersisa. Bahkan, untuk bernapas pun ia bilang, “pas.”

ia megap-megap.

Suatu waktu, ia tiba-tiba konslet. Bukan hanya manusia yang kelimpungan karena kehilangan teman (atau alat?) Tetapi, mesin itu juga merasa kecewa. Bukan pada manusia yang telah menggunakannya, ia justru merasa tersanjung dapat menjadi sesuatu yang berguna. Kekecewaan itu justru ditujukan untuk dirinya. Ia telah berhasil membantu banyak umat, tetapi telah gagal mengurusi kelangsungan hidupnya sendiri.

Ia tiba-tiba teringat pada profesor yang telah menciptakannya. Yang selama proses penciptaannya, sang profesor telah kehilangan keluarga, waktu, energi, bahkan tanpa ia sadari, proses kreatif itu telah menyita hidupnya sendiri.

Mesin itu teronggok di sudut ruangan. Lumpuh.

This is just lovely :’) Matur nuwun, Dear :D

1 week ago -

Gedebruk.

Sejak degup ini kembali menghentak dada, saya tahu, saya akan mengulangi kebodohan fatal. Saya, jatuh cinta. Kami, membangun komitmen. Mengapa saya menyebutnya ‘kebodohan’? Sebab happy ever after ending story itu mutlak milik Disney. Saya tidak semuluk itu. Mengaitkan dua manusia dalam satu jalur bukanlah perkara mudah, sekali pun mungkin bagi takdir. Kadang takdir hanya ingin bermain-main, kau tahu? Ia mempertemukan kita dengan seseorang, tapi tidak benar-benar digariskan untuk bersama. Permainan menyenangkan. Yah, andai kau melihatnya demikian. Permainan yang kelak memberikan kita pelajaran pada babak terakhir. Itulah mengapa nasib mujur selalu berpihak pada mereka yang gigih bertahan, sebab segala sesuatu yang kita harapkan kerap kita dapatkan di akhir, bukan?

Maka resmi sudah serangkaian drama yang panjang dan kompleks ini dimulai. Rasa penasaran merasuki tubuh saya sampai ke rusuk. Saya dilanda dahaga akan merasa. Sialan. Lelaki itu berhasil mengaktifkan kembali hormon dopamine, fenylethilamin dan endorphin dalam tubuh saya. Rupanya hati saya juga terbukti masih berfungsi. 

Sosoknya begitu semarak. Serupa kembang api yang menyeruak di sentral gempita, nyalanya begitu tiba-tiba. Saya bahkan tak sempat berkedip. Ia tahu-tahu ada. Hadir di sela kelebat hari-hari saya yang gerakannya secepat kepakan sayap lalat. Di sinilah kami, dengan lamban mengatasi kecanggungan demi kecanggungan pada setiap pertemuan, dibuat terperangah oleh sengatan listrik dalam setiap sentuhan, senyuman, kerlingan. Rikuh dalam sapa. Menebak-nebak apa yang kelak terjadi esok. 

 

Saya pernah dengar, katanya, kita selalu berpikir rasional, sampai kita jatuh cinta.

How You Describe Yourself by Representing Color, Shape, Animal, Natural Elemen, Tools (writes in Bahasa)

#1

Bila diibaratkan, saya seperti tetes hujan. Saya tidak suka mengotori seperti kopi. Atau menakut-nakuti seperti merah milik darah. Tapi tidak mau menjadi cokelat dan semembosankan tanah juga, sih. Saya bening. Ketika kita bisa menampilkan diri sebagaimana adanya, untuk apa ditutup-tutupi?

#2

Tentu kalian tahu bentuk tetes hujan. Seperti alpukat dalam ukuran kecil. Bahkan sangat kecil, sehingga kalian akan menangkap sosoknya sebagai garis. Padahal saya bukan garis. Saya lingkaran yang ujungnya lonjongSeperti halnya sebuah lingkaran penuh, ia selalu berpeluang membelah diri dan menciptakan lengkung baru, bukan? 

#3

Saat malam di musim penghujan tiba, saya akan membelah diri dari tetes hujan menjadi sesuatu yang menyala. Sebab kebeningan saja tak sanggup mengusir pekat malam, maka saya berpikir, saya akan menjadi kunang-kunang. Saya senang memiliki lampu di bokong saya. Ini menyenangkan, lho. Lagipula, hal itu membuat saya lebih percaya diri mendekati apa atau siapa pun yang dirudung gelap. Saya mungkin tak sebesar bulan, tapi saya yakin pada beberapa hal, ukuran bukan lagi tolak ukur sesuatu. Sekali lagi, saya sungguhan senang saat melihat bokong saya yang seukuran kukumu menyala.

#4

Kembali, mentari akan mengambil alih tugas saya sebagai kunang-kunang saat pagi tiba. Tetapi dengan sisa tenaga yang saya miliki, saya kemudian merubah bentuk menjadi embun. Embun dapat menyesuaikan diri dengan apapun yang mewadahinya, sekalipun kepalan tanganmu yang kamu bentuk mangkuk.

#5

Selain itu, saya bisa saja menjadi media, tinta yang kamu gunakan menulis sekarang. Atau mungkin, suara yang kamu gemakan. Bibir yang kamu bentuk lubang saat kamu embuskan napas.

#6

Saya, sama dengan manusia lainnya; partikel yang mustahil dipisahkan dari alam. 

(Dikumpulkan sebagai essay singkat dalam mata kuliah Creative Thinking Class, IM Telkom 2012.) Gambar di ambil dari sini dan sini

Kamis, 21 Februari 2013

It’s dumb. I keep wishing you to know what i’m not saying. Only for this time, may i ask a pixy? Where did Cinderella meet her?

Abi Ardianda

Books On January

Berikut daftar buku yang saya baca selama bulan Januari;

#1 The Casual Vacancy - J.K Rowling

image

All Rowling writes here was just so true. But only true; fenomena-fenomena sosial yang kita terima sebagai asupan mata dan telinga setiap harinya, itu begitu realis. But just true, -kurang memikat- even yah, i never dreamed to be able writes like the way she writes, it’s imposible. Karakter-karakternya yang begitu hidup, selera humornya yang, astaga, nggak pernah kepikiran pasang backsound Rihanna di pemakaman :)) dan kematangan emosional beliau dari segi individu terasa banget di setiap narasinya. However,I do adore her :”)

# 2 The Unforgetable - Wina Effendi

image

Membaca buku ini saya seperti sedang mengulum gulali, manis sampai halaman terakhir! Ide cerita memang saya rasa kurang melimpah, even info soal winenya itu lengkap sekali, but honestly i expect more tragistic mello-drama « nonton sinetron aja lu, Bi -_- tapi saya suka buku ini. Pas banget dibaca abis pulang kuliah dan nggak ada kerjaan/tugas *lope-lope di udara*

#3 Karena Kita Tidak Kenal - Farida Susanty

image

Beberapa pernyataan dalam buku ini membuat saya berulang kali setuju, mengiyakan, “iya, ya?” atau “iya banget.” She not only writes what we think that’s true, but overall it’s really artistic. Dari semua kumpulan cerpen di dalamnya, saya paling suka “Alice In Wonderless Land” dan “Culik”, menggeser perspektif saya mengenai korban dan pelaku kejahatan. Juga orang asing, yang memang selalu mengundang rasa penasaran dan antusias itu…

Movies On January

Berikut daftar film yang saya saksikan selama bulan Januari;

#1 The Odd Life Of Timothy Green

image 

Kesederhanaan plot dan twist yang ketebak nggak lantas bikin saya batal nangis pas nyampe ending. Sampe ngigit bantal, gila! Oh look that innocent face, Timothy! Siapa yang tega nolak mengabulkan keinginan bocah dengan tatapan ditambah senyum seperti itu, coba? Sini dipangku sini.. *mulai pedhopil* :))

#2. About Cherry

image

A confession of a porn star. Latar belakang Cherry benar-benar membius simpati, membuat saya mengkaji ulang motif dari tindakannya. Well, i can say this movie was great, but wasn’t entertain enough. Dialognya flat, padahal gagasan utamanya kece, i mean, different.

# 3 Flight

image

I failed to finished the movie. Out of expectation, saya ketiduran, atau keasyikan main Blackberry, entah :D lupa. Daya magis yang digema’kan film begitu minim, kecuali pas pesawatnya jalan ngebalik, bikin parno :O

 

#4 If Only

image

Lumayan kolot nih film, tahun 2004. Yah, agak tertinggal sih kalau di bandingkan dengan drama romantis th 2012-later, tapi manis juga, kok. Mengajari kita untuk menghargai sesuatu secara utuh, cause tommorow may not come. Kalimat terakhir saya menggambarkan keseluruhan filmnya, deh :)) maaf, maaf. Paul Nicholls tuh cocoknya meranin superhero, tau :p

#5 Tomboy

image

This is the best for this month. Highly recomended. I even wonder wether the kid used script, cause they all act naturally. They were born especially for those scenes! Kerasa banget nih sama kita sebagai audience bahwa Céline Sciamma  sebagai sang sutradara telah melewati penelitian yang begitu dalam untuk menyelami seluk beluk kondisi jiwa sang tokoh utama. Hingga mengantarkan saya pada suatu kesimpulan, bahwa; laki-laki/perempuan akan menunjukan gestur spontan saat merespon sesuatu sesuai dengan naluri masing-masing tanpa dapat diatur maupun direncanakan. It such a nonverbal communication yang akan selalu bergerak lurus dengan insting, bahkan menentang kodrat jasmanimu sendiri sebagai laki-laki atau perempuan. Overall, di film ini tokoh Jeanne, a.k.a adik bungsu Laure, sang tokoh utama bener-bener nyuri perhatian banget, deh! Gila, gila, gila tuh bocah gemesin banget! Curl-blondenya ngingetin saya sama ponakan :”) nggak tahan buat nggak upload satu scene do’i yang lagi motong rambut kakaknya:

image

(sok dewasa banget kan, dia :| katanya udah gede mau jadi hairstylist! hihi, muuuah, Jeanne!)

#7 Les Misérables

image

Kaget sebenernya pas masuk auditorium, duduk, dan mendapati setiap tokoh menyanyikan dialognya. I mean, it’s like… are you serious? No wonder it takes three hours for whole movie :)) didukung naskah yang epic dari Victor Hugo, siapa sih yang nggak tahu Si Bongkok Dari Notre Dame :p film ini jadi masterpice, Hugh Jackman mencapai kematangan yang bikin liur ngucur *slurp* :)) yah, andai ditampilkan sebagai film biasa, bukan mirip opera, mungkin film ini akan bisa dinikmati seutuhnya. *korek kuping*

#8 Bo

image


I really had no idea that this movie was coming from Belgium. Leyeh-leyeh deh selama nonton, berasa dekat dan nggak asing banget sama tempat, dialog dan nyaris sama semua yang ada dalam film. Honestly the story was a lil’bit cliche, about the girl who decides to get in prostitute. Tapi saya suka cara film ini mengupas satu demi satu bagian yang menyelaputi hasrat paling mendasar dari diri setiap manusia; sex desire. Selain itu, saya nggak tau, apa lagi yang memikat dari film ini. Kenangan, mungkin? *kemudian galau* Gkgk :))

Self Sketch, originally made from @sandyajepit

Self Sketch, originally made from @sandyajepit

Self Ilustration From @chandracaputri taken from; http://chandraputri.wordpress.com/2012/11/17/abi-ardianda/

Self Ilustration From @chandracaputri taken from; http://chandraputri.wordpress.com/2012/11/17/abi-ardianda/

A young man sent this to me via Blackberry Messanger on last Wednesday. Caught myself blushing during listen to his cover song from Raisa is such a guilty pleasure. Damn! I’m not even teenager anymore, but this guy is just simply make me feel so too mushy. Err…

3 months ago -