Riwayat Mesin Sepuh
Mesin itu teronggok di sudut ruangan. Lumpuh.
Ia juga tuli dan bisu. Kini, keberdaannya lebih mirip hiasan ketimbang alat. Hiasan yang justru membuat ruangan tambah kumuh. Tidak lama lagi, seseorang akan mengangkatnya dari sana. Tapi, siapa menyangka gabungan besi berdebu itu pernah begitu membantu manusia dalam melakukan banyak pekerjaan?
Mesin itu berotak pentium. Ia lahir dari pemikiran panjang seorang profesor yang telah menukarkan seluruh hidupnya menjadi sebuah alat yang dapat digunakan banyak umat.
Kebolehannya yang utama adalah mampu menerima informasi dan menyimpannya. Meng-conver numerik ke dalam alphabet, kemudian sebaliknya. Selain tanggap, ia juga memproses semua data yang masuk dengan cepat. Cukup sepersekian detik, kau bisa meminta kembali informasi yang telah kau pindahkan padanya, kapan saja. Dalam bentuk apa saja.
Manusia kemudian lalai. Mereka mengoperasikan mesin itu dua puluh empat jam seminggu. Bergiliran. Mereka mentransfer banyak hal. Mulai dari data-data yang tak kuasa otak mereka simpan, bahkan sampai keluhan. Kepada mesin itu, mereka mengeluh, sambil berharap cemas menanti solusi.
Seperti biasa, mesin itu akan memberi. Ia selalu mengkonversikan semua yang manusia minta. Semuanya. Seluruhnya. Ia tidak kenal kata kecuali.
Manusia terus menerus menggunakannya. Mereka lupa, kemudahan terkadang begitu dekat dengan eksploitasi. Sedangkan mesin, secanggih apa pun, ia tetap hanya mesin. Ia boleh menawarkan banyak kemudahan, tetapi tetap tak mampu berinisiatif. Sesuatu yang penting dan dapat menyelamatkan dirinya. Semua yang dilakukannya telah diatur dan dirancang sedemikian rupa untuk manusia.
Mesin itu bekerja nyaris tanpa jeda. Selalu saja ada yang harus dilakukannya. Setiap tanggung jawab yang diembannya seperti gelambir daging sapi mentah yang dijejal-jejalkan ke dalam kantung keresek sampai penuh, sampai nongol-nongol keluar, sampai tumpah-tumpah, meruah. Tidak ada ruang tersisa. Bahkan, untuk bernapas pun ia bilang, “pas.”
…ia megap-megap.
Suatu waktu, ia tiba-tiba konslet. Bukan hanya manusia yang kelimpungan karena kehilangan teman (atau alat?) Tetapi, mesin itu juga merasa kecewa. Bukan pada manusia yang telah menggunakannya, ia justru merasa tersanjung dapat menjadi sesuatu yang berguna. Kekecewaan itu justru ditujukan untuk dirinya. Ia telah berhasil membantu banyak umat, tetapi telah gagal mengurusi kelangsungan hidupnya sendiri.
Ia tiba-tiba teringat pada profesor yang telah menciptakannya. Yang selama proses penciptaannya, sang profesor telah kehilangan keluarga, waktu, energi, bahkan tanpa ia sadari, proses kreatif itu telah menyita hidupnya sendiri.
Mesin itu teronggok di sudut ruangan. Lumpuh.


















